Saturday, March 6, 2021

Pengalaman Lulus Toilet Training (TT) Dalam 3 Hari

     Toilet Training (TT) adalah proses pelatihan anak melakukan buang air kecil (BAK) maupun buang air besar (BAB) di kamar mandi seperti yang dilakukan oleh orang dewasa, atau bahasa mudahnya lepas popok. TT ini menjadi salah satu momok bagi ibu-ibu, termasuk saya. Akan tetapi, setelah dijalani, proses ini tidak seribet yang dibayangkan. Anak saya, bernama Uwais, berhasil lulus TT 3 hari sejak dia benar-benar melepas popok baik saat siang maupun malam. Kali ini saya akan berbagi pengalaman saya dalam melatih Uwais lulus Toilet Training dalam 3 hari.
Sumber: flickr.com


    Proses TT Uwais sebenarnya tidak benar-benar dilakukan dalam 3 hari langsung lulus. Proses ini merupakan akumulasi dari stimulasi yang sudah saya berikan sejak dia berusia 1 tahun. Mungkin ibu-ibu yang membaca ini kaget, hah? Satu tahun?. Pada awalnya saya memang ingin melakukan TT pada saat Uwais berusia 18 bulan. Menurut literatur yang saya baca, anak sudah mulai siap untuk melakukan TT sejak usia 18-24 bulan. 

Pelatihan Awal Toilet Training 

    Stimulasi awal TT pada saat Uwais berusia 1 tahun tidak dengan praktik, namun hanya membacakan buku tentang Toilet Training. Ada banyak sekali buku tentang Toilet Training di luaran sana. Saya menggunakan dua buku di bawah ini karena menurut saya sudah cukup mewakili tentang proses BAB dan BAK. Uwais sangat senang sekali dibacakan buku ini dan menjadikan buku ini favoritnya.

Buku Toilet Training

    Selain membacakan buku, saya juga mulai melakukan sounding kalau BAB dan BAK itu dilakukan di kamar mandi. Sounding ini dilakukan semisal ketika dia sedang menemani saya melakukan BAB dan BAK, saya beritahukan pada dia “Ini namanya pipis/pup. Kakak sekarang masih pakai popok. Pipis/pupnya di popok. Nanti kalau Kakak sudah besar, pipis/pup di kamar mandi, ya, kayak Ayah dan Ummi”. Pun ketika dia pipis saat dimandikan saya juga sembari melakukan sounding yang sama. Tujuan dari stimulasi kegiatan TT diawal adalah dia mengenal apa itu pipis/pup dan di mana tempat melakukannya.

Hambatan Rencana Awal Toilet Training

    Manusia hanya berencana, Allah yang menentukan. Saat Uwais usia 18 bulan, qadarallah dia terdiagnosa Tuberkulosis (TBC) Paru. Saya ingin fokus pada pengobatan TBCnya selama 6 bulan yang cukup menguras tenaga dan emosi tidak hanya bagi saya juga bagi Uwais. Saya tidak ingin proses TT ini semakin membebani Uwais.

    Pengobatan TBC berakhir tepat saat Uwais berusia 2 tahun. Namun, lagi-lagi proses TT ini saya tunda karena harus menyapih. Proses menyapih dan TT adalah dua peristiwa besar dan berat bagi anak. Sehingga disarankan untuk tidak dilakukan secara bersamaan. Alhamdulillah biidznillah proses menyapih Uwais berjalan lancar selama 5 hari. Saya tidak langsung memulai proses TT itu. Saya baru memulai proses TT sekitar 2 minggu setelah lulus sapih dan bersamaan dengan awal pandemi, kira-kira akhir bulan Maret. Saya berfikir mumpung di rumah saja, tidak banyak kegiatan di luar bisa dimanfaatkan untuk TT. 

Benda-Benda yang Dibutuhkan Selama Masa Toilet Training

    Sebelum memulai TT saya menyiapkan beberapa barang yang diperlukan selama masa Toilet Training. Beberapa barang yang dibutuhkan selama TT antara lain:

1. Celana Dalam
Pilih celana dalam yang menarik minat anak supaya mereka semangat mengenakannya. Saya memilih celana dalam dengan gambar kendaraan konstruksi kesukaan Uwais, serta bentuk celana dalam yang mirip dengan celana dalam Ayah. Uwais suka meniru apa yang dilakukan atau dipakai oleh Ayahnya.
Celana dalam anak


2. Adapter Potty Seat
Saya membeli ini untuk bepergian atau saat di rumah Uti yang toiletnya menggunakan toilet duduk. Kalau di rumah saya sendiri menggunakan toilet jongkok, sehingga tidak memerlukan potty.
Adapter Potty Seat


3. Reward
Saya membelikan stiker bintang sebagai reward setiap berhasil pipis di WC, persis seperti yang ada di buku Toilet Trainingnya.

Stiker Bintang



4. Celana Popok untuk Tidur
Celana popok ini sangat saya rekomendasikan untuk dibeli dibanding menggunakan alas ompol (perlak), sprei anti ompol atau celana clodi. Beberapa kelebihan celana popok untuk tidur dibanding yang lain adalah:
  1. Anak akan mengasosiasikan ini sebagai celana tidur bukan sebagai popok. Ada waktu dimana anak saya memakaikan clodi ketika kehabisan celana dalam, dia menyadari bahwa fungsi clodi sama seperti popok. Sehingga, saya menjauhkan clodi untuk keberhasilan TT.
  2. Mampu menjamin keamanan kasur dari ompolan anak yang tidurnya suka berputar-putar. Dibutuhkan alas ompol (perlak) yang sangat lebar dan menutupi seluruh permukaan kasur untuk mampu menjamin keamanan kasur dari ompolan. Atau bisa saja menggunakan sprei anti ompol. Tapi saya tidak nyaman tidur diatas kasur dengan perlak. Dari review yang saya baca juga sprei anti ompol tidak nyaman digunakan karena berisik.

Celana Popok

 Percobaan Pertama Toilet Training

    Hari pertama saya memulai TT hanya bertahan setengah hari, bahkan tidak sampai 6 jam untuk lepas popok. Saat itu ternyata saya belum siap mental untuk sering pel lantai akibat ompol. Padahal kala itu Uwais sudah bisa diajak komunikasi dengan baik dan dia sudah mampu bilang “Mik, aku pipis”, tapi bilangnya ketika sudah ngompol. Setiap dia habis ngompol pun saya tetap beritahu “Nak, ini namanya pipis. Kalau pipis bilang, ya. Pipisnya di kamar mandi.” . Tapi tetap saja terus mengompol dan baru bilang setelah dia mengompol. 

    Saya juga mencoba pengalaman ibu-ibu lain saat TT dengan sering mengajak ke kamar mandi tiap 1-2 jam sekali, untuk ditatur istilah jawanya. Namun, frekuensi pipis Uwais tidak dapat diprediksi. Dalam 15 menit sudah 4 kali dia pipis. Uwais juga menolak untuk sering diajak ke kamar mandi. Dia bahkan menolak untuk pipis di kamar mandi. Akhirnya saya sudahi prosesnya dan mencoba lagi bulan depannya. 

Percobaan Kedua, Ketiga, dan Seterusnya Hingga Saya Pasrah.

    Bulan depannya masih tetap sama, dia menolak untuk diajak ke kamar mandi dan masih belum mampu menahan pipisnya. Kali ini saya coba cara lain, saya ajak dia memilih-milih potty yang lucu untuk memotivasi dia pipis di potty. Dia memang nampak tertarik dan bersemangat saat memilih potty, bahkan saat barangnya datang pun dia senang sekali. Tapi dia tetap menolak untuk pipis dan pup di potty. Dia hanya menggunakan pottynya untuk bermain. Saya pun memutar otak lagi, mencari strategi agar dia mau melakukan TT.

    Hingga pada suatu hari, ketika Uwais menginap di rumah Uti, dia diajak pipis di WC jongkok langsung dan berhasil pipis. Dia senang sekali dan semenjak itu mau pipis di WC. Saya tidak menyianyiakan kesempatan itu,  saya mencoba melakukan Toilet Training lagi. Saya memberikan stiker bintang seperti di bukunya sebagai reward setiap kali ia berhasil pipis di WC. Sebelumnya, stiker bintang tidak pernah digunakan karena dia belum pernah berhasil pipis di WC. Kali ini Uwais bersemangat sekali belajar melepas popok dan pipis di kamar mandi. Dia bahkan tidak mengompol. Namun saking semangatnya, hampir tiap 5 menit sekali dia minta ke kamar mandi untuk pipis. Tapi tentu saja kebanyakan tidak keluar pipisnya. Ini sungguh mengganggu aktivitas saya apalagi saat itu saya sedang berjualan salad. Pesanan jadi tidak selesai karena harus menuruti permintaan Uwais ke kamar mandi. Karena tidak tahan, akhirnya saya memakaikan popok lagi. Sungguh sebuah kesalahan besar yang saya lakukan karena tidak bersabar dengan proses adaptasi dia mengenali sinyal ingin buang air.

    Semenjak itu, setiap saya mencoba memulai lagi prosesnya, dia memang mau pada awalnya. Namun setelah sekali pipis di WC, dia akan minta pakai popok lagi. Bahkan pernah ada momen di mana dia melakukan semua proses TT itu sendiri, mulai dari minta mencopot celana, pipis di WC tanpa ditemani, cebok (saya sudah siapkan ember kecil berisi air dengan gayung di dekat WC), sampai mengelap kemaluan. Tapi tetap saja, setelah itu lagi-lagi dia meminta pakai popok. Semua percobaan-percobaan itu dilakukan hanya saat siang hari dan tidak sampai setengah hari. Saya bahkan tidak pernah mencoba melakukan percobaan pada malam hari karena Uwais yang selalu minta pakai popok lagi setiap habis berhasil satu dua kali pipis di WC.

    Saya pun akhirnya pasrah untuk menyudahi mencoba TT. Saya menyadari baik saya maupun Uwais belum siap untuk melakukan ini. Saya memutuskan dan berniat penuh, TT ini akan dilakukan saat dia berusia 3 tahun saja sembari saya mengumpulkan niat dan kesiapan saya. Tekad saya bulat, TT ini harus berhasil saat dia berusia 3 tahun.

Dua Bulan Menjelang Hari-H Toilet Training

    Dua bulan menjelang Uwais berusia tiga tahun, yakni bulan Januari 2021, saya mulai melakukan sounding dengan waktu yang lebih spesifik “ Kakak, sekarang bulan Januari. Bulan Maret nanti Kakak umur 3 tahun. Kakak uda besar, jadi Kakak lepas popok, ya?” . Terkadang soundingnya saya ganti “Kakak, sekarang bulan Januari. Habis Januari, Februari, terus Maret. Kurang 2 bulan lagi, bulan Maret. Kalau bulan Maret artinya apa?” Dia akan menjawab “Lepas popok”. Itung-itung sounding sekalian belajar berhitung dan nama-nama bulan, hehe. Hal ini rutin saya lakukan hampir tiap hari selama 2 bulan. Ini merupakan cara yang sama saya lakukan saat akan menyapih dia dengan cinta dulu. Menurut saya sounding ini sangat penting sekali dan bermanfaat tidak hanya untuk keberhasilan menyapih dan TT, tetapi juga untuk keberhasilan mengasuh anak keseluruhan.

    Selain sounding, sejak bulan Januari, setiap dia meminta mainan tertentu, saya akan menjanjikan akan membelikan kalau dia sudah lepas popok. Mainan yang dia inginkan saat itu adalah handy talkie, boneka bunny, dan mainan figur Batman. 

    Masuk bulan Februari, sounding pun menjadi lebih spesifik lagi “Bulan Maret nanti, 1 bulan lagi, Kakak lepas popok, ya. Karena Kakak sudah besar. Coba lihat teman-teman Kakak yang lain kayak (menyebutkan nama teman-temannya) sudah nggak ada yang pakai popok lagi. Jadi Kakak lepas popos juga, ya? Nanti Kakak dapat handy talkie, boneka bunny, dan Batman.” Saya juga lebih mengencangkan doa saya di setiap sujud salat agar Allah melancarkan proses TT. Karena sekeras apapun ikhtiar saya, tidak akan ada yang berhasil tanpa izin-Nya,

    Di pertengahan Februari, Uwais terjatuh dan lututnya lecet. Kalau sudah luka, responnya agak berlebihan. Akibatnya, Uwais tidak mau berjalan selama seminggu hanya karena lutut yang sedikit lecet. Untuk menyemangati Uwais agar mau berjalan lagi, Ayahnya membelikan mainan Batman. Saya marah karena itu akan melanggar kesepakatan yang sudah dibuat. Mainan Batman hanya boleh dibelikan setelah Uwais lepas popok. Sebagai jalan tengah, mainan Batman itu hanya dipajang saja di tempat agak tinggi, yang tidak terjangkau oleh Uwais. Dia hanya diperbolehkan memegang setelah dia lepas popok. MasyaAllah tabarakallah, Uwais anak yang fair dan supportif. Dia mau menurut dan tidak tantrum cuma bisa melihat mainan Batman kesukaannya di depan mata tanpa memainkannya.

Mainan figur Batman

Toilet Training Sesungguhnya Pun Dimulai

    Pada awal bulan Maret, qadarallah kondisi saya kurang sehat, ada 3 sariawan yang sedang bertandang. Sebenarnya sakit sariawan ini sudah sering saya alami tiap bulan sejak kecil (sariawan hormonal). Saya sudah terbiasa dengan sariawan dan bisa tetap makan dan berbicara seperti biasa asal lokasi sariawan tidak di lidah atau pangkal gusi molar. Dua lokasi ini merupakan lokasi sariawan tersakit yang membuat saya susah untuk membuka mulut dan makan. Dari 3 sariawan saya saat itu, dua sariawan terletak di lokasi tersakit. Qadarallah, selain sariawan saya juga mengalami sakit kepala akibat penurunan tekanan darah (hipotensi). Walau kondisi sedang tidak memadai, saya tetap bertekad melanjutkan proses TT. Saya tidak ingin mengingkari omongan saya yang dapat berakibat kepada penurunan kepercayaan Uwais kepada saya. Saya banyak berdoa kepada Allah untuk menguatkan dan memampukan saya melakukan proses TT.
    
    Bismillah.. proses TT sesungguhnya pun dimulai. Malam sebelum tidur, saya sekali lagi melakukan sounding “Kakak, hari ini sudah bulan Maret. Tandanya Kakak harus melepas popok. Ini malem terakhir Kakak pakai popok, ya? Besok sudah nggak pakai lagi.” 
Keesokan harinya, setelah bangun tidur, Uwais bilang “Umiik. Sekarang aku lepas popok! Ayo lepas Mik popoknya! Aku mau Batman” :D
    
    Hari-H Toilet Training pun dimulai. Ada beberapa cara untuk melakukan toilet training. Ada yang memulai TT dengan perlahan, yakni lepas popok pada siang hari dan masih pakai popok pada malam hari maupun saat bepergian. Ada juga yang memulai dengan langsung benar-benar melepas popok baik saat siang maupun malam hari dan saat berpergian. Saya memilih cara kedua karena menurut saya lebih cepat dan efektif walau sedikit merepotkan.

    Saya menyingkirkan popok dari pandangan Uwais meski popok dia masih banyak saat itu. Benar saja, Uwais sempat meminta pakai popok lagi. Saya pun berkata “Kakak sudah besar. Lepas popoknya seterusnya. Sudah nggak ada popok lagi, ya, buat Kakak.” Alhamdulillah biidznillah setelah itu dia tidak meminta pakai popok lagi.

    Uwais benar-benar kooperatif untuk bilang kalau ingin pipis, bahkan dia ingat dan berhitung berapa kali dia pipis di kamar mandi. Saya saja lupa dan tidak menghitung. Saya hanya mengingatkan sesekali “Kalau ingin pipis, bilang ke Ummi dan kita pipis di kamar mandi”. 

    Seorang teman merekomendasikan saya memberikan mainan surprise egg yang murah meriah sebagai reward setiap kali berhasil pup/pipis di WC. Saya pun langsung membelikannya di market place dengan harapan dia akan lebih semangat lagi untuk melakukan TT dengan reward baru. Lucunya, dia malah kecewa mendapat mainan telur. Uwais bilang “Kok telur, sih? Aku gak suka telur!”. Dia ternyata hanya minta diberi stiker bintang lagi setiap pipis, kayak di buku Toilet Training. Ada-ada saja anak kecil ini.

    Kembali ke hari pertama TT, dalam sehari itu dia hanya mengompol sekali. Saat tidur siang pun, dia juga tidak mengompol. Uwais baru pipis setelah dia bangun tidur.

    Saya juga sempat mengajak Uwais pergi ke mini market. Saat pergi keluar saya membawa tas, saya sebut TT Bag, yang berisi adapter potty seat, celana dalam dan celana bersih, tisu basah, tisu kering, lap sintetis (kanebo), kresek, semprotan sanitizer, sabun, dan juga botol kosong. Barang-barang ini sebagai persiapan jika terjadi “kecelakaan” di tempat umum. Khusus botol kosong saya fungsikan sebagai potty on the go ketika tidak menemukan toilet umum saat Uwais ingin pipis.

Isi Toilet Training Bag

    Saat malam hari sebelum tidur, Uwais saya ajak ke kamar mandi untuk pipis. Setelah itu, saya memakaikan celana popok yang saya bilang sebagai celana tidur. Sebenarnya malam pertama itu dia mengompol, tapi kasur saya aman dari ompolan karena tertahan di celana ompol. Alhamdulillah proses TT pada hari pertama lancar, walau dia belum BAB.
Hari kedua TT juga berjalan lancar. Selama seharian tidak mengompol, baik tidur siang maupun tidur malam. Namun, Uwais juga masih tetap belum BAB. 

    Hari ketiga TT, Uwais sempat mengompol sekali karena keasyikan bermain. Dengan jujur dia berkata “Aku tadi mau bilang ke Ummi di kamar. Tapi pipisnya keluar dulu”. Saya mengapresiasi kejujurannya dan tidak menunjukkan ekspresi marah. Tiap ngompol pun, saya tidak pernah memarahi maupun menunjukkan ekspresi kaget atau tidak suka. Saya tetap tersenyum sembari berkata “Kakak ngompol ya? Gak apa-apa masih belajar, Nanti bilang, ya, kalau pengin pipis lagi.”

    Saat malam hari menjelang tidur, tiba-tiba Uwais terdiam dan menunjukkan tanda-tanda ingin mengejan. Saya dengan sigap bertanya mengajaknya untuk pup di kamar mandi. Alhamdulillah Uwais mau dan berhasil pup di WC. Saya menunjukkan ekspresi senang dan menyorakinya ketika dia berhasil pup di WC. Saya juga menunjukkan rasa bangga saya terhadap keberhasilannya. Uwais merasa senang dan keesokan harinya dia kembali pup lagi di WC. 

    Begitulah proses panjang namun singkat pengalaman Toilet Training anak pertama saya. Berhasil dalam 3 hari merupakan puncak gunung es dari rangkaian proses pengenalan kegiatan TT yang saya lakukan sejak dia berusia satu tahun. Berhasil hanya mengompol 4x selama 3 hari TT pun juga merupakan hasil dari jatah mengompol yang sudah dihabiskan di waktu belajar latihan melepas popok sebelumnya (dari sejak awal mencoba TT sampai benar-benar melakukan TT).

    Semoga pengalaman saya ini dapat bermanfaat bagi ibu-ibu lain yang membaca. Namun perlu diingat, bahwa tiap anak itu unik dan berbeda. Apa yang berhasil untuk Uwais belum tentu berhasil untuk anak lain. Seperti halnya anak lain yang berhasil TT dengan sering diajak ke kamar mandi atau bermain peran atau memakai celana dalam yang lucu, hal-hal tersebut tidak berlaku untuk Uwais. Semangat mengasuh, Toilet Training pasti berlalu.